MajalahSobek - JARINGAN Islam Liberal (JIL) adalah sebuah pemikiran yang sifatnya
liberal, yang menurut mereka tidak terpaku dengan teks-teks Agama (Al
Quran dan Hadis), tetapi lebih terikat dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam teks-teks tersebut. Dalam implementasinya pemikiran ini
dapat disebut meninggalkan teks sama sekali, dan hanya menggunakan
rasio dan selera belaka.
Ditinjau dari sudut kebahasaan. penggandengan antara kata “Islam” dan
“Liberal” itu tidak tepat. Sebab Islam itu artinya tunduk dan
menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan liberal artinya bebas dalam
pengertian tidak harus tunduk kepada ajaran Agama (al-Qur’an dan Hadis),
Oleh karena itu, pemikiran liberal sebenarnya lebih tepat disebut
“Pemikiran Iblis” dari pada “Pemikiran Islam”, karena makhluk pertama
yang tidak taat kepada Allah adalah Iblis.
Lebih jelasnya, di bawah ini kami cantumkan point-point pemikiran kelompok JIL tersebut yang kami kutip dari berbagai sumber :
1. Umat Islam tidak boleh memisahkan diri dari umat lain, sebab
munusia adalah keluarga universal yang memiliki kedudukan yang
sederajat. Karena itu larangan perkawinan antara wanita muslimah dengan
pria non muslim sudah tidak relevan lagi
2. Produk hukum Islam klasik (fiqh) yang membedakan antara muslim
dengan non muslim harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan
universal manusia.
3. Agama adalah urusan pribadi, sedangkan urusan Negara adalah murni kesepakatan masyarakat secara demokratis.
4. Hukum Tuhan itu tidak ada. Hukum mencuri, zina, jual-beli, dan
pernikahan itu sepenuhnya diserahkan kepada umat Islam sendiri sebagai
penerjemahan nilai-nilai universal.
5. Muhammad adalah tokoh histories yang harus dikaji secara kritis
karena beliau adalah juga manusia yang banyak memiliki kesalahan.
6. Kita tidak wajib meniru rasulllah secara harfiah. Rasulullah
berhasil menerjemahkan nilai-nilai Islam universal di Madinah secara
kontekstual. Maka kita harus dapat menerjemahkan nilai itu sesuai dengan
konteks yang ada dalam bentuk yang lain.
7. Wahyu tidak hanya berhenti pada zaman Nabi Muhammad saja (wahyu
verbal memang telah selesai dalam bentuk al-Qur’an). Tapi wahyu dalam
bentuk temuan ahli fikir akan terus berlanjut, sebab temuan akal juga
merupakan wahyu karena akal adalah anugerah Tuhan.
8. Karena semua temuan manusia adalah wahyu, maka umat Islam tidak
perlu membuat garis pemisah antara Islam dan Kristen, timur dan barat,
dan seterusnya.
9. Nilai islami itu bisa terdapat di semua tempat, semua agama, dan
semua suku bangsa. Maka melihat Islam harus dilihat dari isinya bukan
bentuknya.
10. Agama adalah baju, dan perbedaan agama sama dengan perbedaan
baju. Maka sangat konyol orang yang bertikai karena perbedaan baju
(agama). semua agama mempunyai tujuan pokok yang sama, yaitu penyerahan
diri kepada Tuhan.
11. Misi utama Islam adalah penegakan keadilan. Umat Islam tidak
perlu memperjuangkan jilbab, memelihara jenggot, dan sebagainya.
12. Memperjuangkan tegaknya syariat Islam adalah wujud
ketidakberdayaan umat Islam dalam menyelesaikan masalah secara
arasional. Mereka adalah pemalas yang tidak mau berfikir.
13. Orang yang beranggapan bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan syariat adalah orang kolot dan dogmatis
14. Islam adalah proses yang tidak pernah berhenti, yaitu untuk
kebaikan manusia. Karena keadaan umat manusia itu berkembang, maka Agama
(Islam) juga harus berkembang dan berproses demi kebaikan manusia.
Kalau Islam itu diartikan sebagai paket sempurna seperti zaman
rasulullah, maka itu adalah fosil Islam yang sudah tidak berguna lagi.
Itulah beberapa pemikiran pokok dari jaringan Islam Liberal (JIL).
Selanjutnya sebelum kita menentukan sikap kita terhadap kelompok
tersebut, kita perlu tahu apakah pemikiran liberal itu dibenarkan
al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu kami akan mencoba melihat dari dua
hal, yang pertama adalah nama kelompok itu sendiri, dan yang kedua
substansi pemikiran-pemikirannya.
Ditinjau dari sudut kebahasaan. penggandengan antara kata “Islam” dan
“Liberal” itu tidak tepat. Sebab Islam itu artinya tunduk dan
menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan liberal artinya bebas dalam
pengertian tidak harus tunduk kepada ajaran Agama (al-Qur’an dan Hadis),
Oleh karena itu, pemikiran liberal sebenarnya lebih tepat disebut
“Pemikiran Iblis” dari pada “Pemikiran Islam”, karena makhluk pertama
yang tidak taat kepada Allah adalah Iblis.
Sementara dari sisi substansinya, seperti yang terlihat pada
point-point yang tersebut di atas, sebut saja misalnya pendapat mereka
yang membolehkan lelaki yahudi (non muslim) menikahi wanita muslimat.
Pemikiran iblis liberal ini tidak mendasarkan sama sekali terhadap
al-Qur’an dan Hadis. Ia hanya mendasarkan pemikirannya kepada rasio dan
selera. Padahal al-Qur’an dengan tegas mcnyatakan bahwa wanita muslimat
tidak halal dinikahi lelaki kafir dan lelaki kafir tidak halal menikahi
wanita muslimat.
Demikian penegasan Allah dalam Surat al-Mumtahanah ayat 10, Dalam hal
ini, ahli tafsir kondang al-lmam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir
al-Qur’a’n al-Adzim menyatakan bahwa ayat inilah yang mengharamkan
wanita muslimat dinikahi orang musyrikin (non muslim}. Demikian pula
yata 5 Surat al-Maidah. Keharaman ini juga ditegaskan dalam sebuah Hadis
yang diriwayatkan oleh al-lmam al-Thabari. Sementara itu, para shahabat
dan ulama sejak zaman rasulullah hingga sekarang tidak ada yang
menghalalkan pernikahan lelaki non muslim dengan muslimah.
Oleh karena itu, pemikiran kelompok liberal ini bertentangan dengan al-Quran, Hadis, dan ijma’ (consensus) ulama.
Selanjutnya, bagaimana sikap kita terhadap mereka? Jawabannya adalah:
Kita jangan sekali-kali mengikuti pemikiran-pemikiran mereka, karena
al-Qur’an menegaskan dalam Surat al-Ahzab ayat 36, “Dan tidaklah pantas
bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan
rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain)
bagi mereka tentang urusan mereka. Dan siapa yang mendurhakai Allah dan
rasul-Nya, maka sungguh dia telah tcrsesat dengan kesesatan yang
nyata”.
Pengertian “faqad dhalla dhalalan mubina” (sungguh dia telah tersesat
dengan kesesatan yang nyata) ditafsiri dengan ayat 63 Surat al-Nur,
“…maka orang-orang yang menyalahi perintah rasul-Nya hendaknya mereka
takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. Orang yang
tersesat dengan kesesatan yang nyata akan ditimpa azab yang sangat
pedih, dan siksa yang pedih tidak ada lagi kecuali neraka. Maka
mengikuti pemikiran liberal dapat menyesatkan dengan kesesatan yang
nyata, dan bahkan dapat menyebabkan orang yang bersangkutan kafir,
misalnya apabila ia menentang al-Qur’an dan atau Hadis.
Kepada orang yang mengikuti pemikiran liberal ini, kita menganjurkan
agar mereka segera bertobat dan kembali pada jalan yang benar. Apabila
mereka mau bertobat, maka mereka kembali menjadi orang-orang Islam.
Namun apabila mereka tidak mau bertobat, maka hukum Islam menegaskan
bahwa orang-orang yang murtad wajib dihukum mati.
[oleh: Prof. KH. Ali
Mustafa Yakub, MA]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar